Kamis, 01 Oktober 2020

Pelayanan Kesehatan Haji.

 Berdasarkan Undang Undang No.13 Tahun 2008 Pemerintah dalam hal ini Mentri Kesehatan berkewajiban memberikan pelayanan kesehatan bagi jamaah yang dikoordinasikan oleh Mentri Agama sebagaimana disebutkan pada pasl 31 ayat (1) dan (2) sebagai berikut :[1]

1.      Pembinaan dan pelayanan kesehatan ibadah haji, baik pada saat persiapan maupun pelaksanaan penmyelenggara Ibadah haji dilakukan oleh mentri yang ruang lingkup tugas dan tanggung jawabnya dibidang kesehatan.

2.      Pelaksanaan tugas sebagaimana dimaksudkan ada ayat (1) dikoordinasikan oleh Mentri,selanjutnya ketentuan mengenai pelayanan Kesehatan juga disebutkan dalam peraturan Pemerintah Nomor 69 tahun 2012 pasal 27

3.      Pembinaan dan pelayanan kesehatan jamaah haji sebagaimana dimaksud dalam pasal 6 ayat huruf 1 wajib diberikan sebelum keberangkatan, selama pelaksanaan penyelenggaraan ibadah haji, dan 14 (empat belas) hari setelah kembali ke Tanah Air.

4.      Pemenrintah wajib meliputi jamaah haji dari penyakit menular yang meliputi :

a.       Diduga mewabah di Arab saudi

b.      Terbawa jamaah haji di Indonesia ke arab saudi,dan/atau

c.       Terbawa jamaah haji dari Arab Saudi ke Indonesia. Selanjutnya dalam hal jamaah haji sakit, pemerintah berkewajiban memberikan pelayanan peribadatan melalui safari wuquf bagi jamaah haji uzur yang menurut medis masih dapat diberangkatkan ke Arafah, dan badal haji bagi jamaah haji yang tidak dapat diberangkatkan ke Arafah.

5.      Mekanisme pembinaan dan pelayanan kesehatan haji dilakukan sebagai berikut :

a.       Pada saat pelaksanaan bimbingan manasik di kecamatan dna kabupaten,jamaah haji diberikan materi tentang kesehatan meliputi : senam kebugaran, tatacara menjaga kesehatan, memilih makanan sehat, dan antisipasi kemungkinan terjangkit penyakit menular di Arab Saudi

b.      Pelayanan pemeriksaan kesehatan di Puskesmas, semua jamaah haji harus memeriksakan kesehatannya secara gratis/pemeriksaan dan suntik manginitis, masing-masing akan mendapatkan buku kesehatan dan kartu bebas manginitis.

c.       Pelayanan kesehatan di Kabupaten/Kota merupakan pemeriksaan kesehatan yang kedua sebelum jamaah haji berangkat ke Arab Saudi

d.      Pelayanan kesehatan di asrama haji emberkasi, yaitu pemeriksaan kesehatan terakhir pada saat jamaah akan berangkat akan berangkat ke Arab Saudi untuk mengetahui dan memastikan kondisi kesehatan jamaah dalam rangka memenuhi ketentuan istita’ah badaniah ( kemampuan fisik )

6.      Pelayanan kesehatan pada saat operasional haji dapat dilakukan sebagai berikut :

a.       Selama dalam perjalanan ibadah haji, baik pada saat keberangkatan maupun saat kepunlangan, kegiatan pelayanan tersebut vdilakukan oleh petugas yang menyertai jamaah ( TKHI kloter )

b.      Selama di Arab Saudi, yaitu di Jeddah, di Madinah dan di Makkah, disediakan Balai Pengobatan Haji Indonesia (BPIH) dan petugas kesehatan haji non kloter ( PPIH Arab Saudi ), selain pelayanan kesehatan di kloter masing-masing

c.       Pelayanan kesehatan selama di Arafah, Muzdalifah dan Mina (Armina),yaitu pada saat jamaah haji melaksanakan wukuf di Arafah, mabit di Muzdalifah serta melontar jumrah di Mina. Kegiatan Pelayanan kesehatan tersebut dilaksanakan oleh petugas kloter dan PPIH Arab Saudi yang membin=dangi kesehatan

d.      Di setiap rumah akit Arab Saudi, baik di Jeddah, madinah, Makkah, Arafah dan Mina. Pelayanan di rumah sakit tersebut dilakukan oleh petugas-petugas kesehatan Arab Saudi.

e.       Pelayanan kesehatan bagi jamaah haji sakit yang di Safari Wukufkan, dilakukan oleh PPIH Arab Saudi Daerah Kerja Makkah. Sedangkan yang di Rumah Sakit Makkah Arab Saudi dilaksanakan oleh petugas rumah sakit.



[1] Ibid,2012


Sumber : Drs.H.Ahmad Kartono "Manajemen Operasional Penyelenggaraan Haji dan Umrah"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Lembaga Pengawas Penyelenggara Ibadah Haji

  1.       Pengawasan penyelenggaraan ibdah haji Secara umum pengawasan dapat diartikan sebagai car abagi suatu lembaga?organisai untuk ...